Rabu, 19 September 2012

Peluang kandidat Presiden AS Mitt Romney terbentur Palestina

Peluang Mitt Romney sebagai kandidat presiden Amerika Serikat kembali terbentur pada Selasa berkaitan dengan gambar video yang diambil secara rahasia dan memperlihatkan Romney mengesampingkan rakyat Palestina --dengan mengatakan tidak ada gunanya melanjutkan perdamaian Timur Tengah.

Komentar-komentarnya itu mengundang kemarahan dari juru runding perdamaian Palestina, Saeb Erakat, yang menyebut komentar Romney "sangat tidak dapat diterima", lapor AFP.

Pada saat yang bersamaan, komentar Romney memberi amunisi baru bagi pihak Barack Obama untuk menunjukkan betapa kandidat dari Partai Republik itu tidak pantas menjadi presiden.

Romney menghadapi berondongan kritik dari dalam negeri, Senin, karena saat berbicara di depan para donatur kampanyenya --seperti diperlihatkan dalam video rahasia-- ia mengesampingkan kalangan pemilih Demokrat sebagai "korban-korban" yang bergantung kepada bantuan pemerintah.

Majalah liberal Mother Jones kemudian menyebarkan pidato Romney di acara tersebut, yang berisi lebih banyak materi bermasalah, terutama soal Israel-Palestina.

Ketika ia ditanya dalam acara penggalangan dana itu apakah "masalah Palestina" bisa diselesaikan, Romney mengatakan pihak Palestina "bagaimanapun tidak tertarik membangun perdamaian, dan jalan menuju perdamaian hampir tidak bisa dibayangkan bisa dicapai".

Dengan menampilkan sedikit nuansa tentang perilaku faksi-faksi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, Romney terlihat meremehkan pihak Palestina dan menyiratkan dirinya sebagai presiden tidak akan serius menawarkan perdamaian Timur Tengah.

"Saya melihat pihak Palestina bagaimanapun tidak menginginkan perdamaian, untuk tujuan-tujuan politis, mereka melakukan pengrusakan dan melenyapkan Israel, dan masalah-masalah tajam ini, dan saya katakan tidak ada jalan," kata Romney.

"Kita menggerakkan sesuatu dengan cara terbaik yang bisa dilakukan. Kita berharap adanya stabilitas, tapi kita tahu bahwa masalah ini akan tetap menjadi masalah yang tidak terselesaikan."

Kepercayaan terhadap kebijakan luar negeri Romney menjadi sorotan setelah ia dikecam melancarkan serangan pedas terhadap Presiden Barack Obama tak lama setelah terjadinya serangan mematikan yang dialami konsulat AS di Libya.

Pihak Gedung Putih mengatakan pernyataan-pernyataan Romney menunjukkan bahwa ia tidak bisa menjadi pemimpin.

Gedung Putih juga mencatat bahwa para pendahulu Obama, baik Bill Clinton dari Demokrat dan George W. Bush dari Republik, menjalankan upaya keras bagi perdamaian Timur Tengah.

Posisi Romney, yang menganggap upaya perdamaian apapun akan sia-sia, muncul di tengah jajak pendapat kalangan Yahudi AS yang kebanyakan tinggal di negara bagian --yang menjadi wilayah perebutan suara, Florida, sebagian besar mengharapkan kepemimpinan aktif Amerika dalam menyelesaikan masalah Arab-Israel.

Romney sebelumnya menyerang Obama dengan menyebut kebijakan Obama soal Timur Tengah salah arah.

Pada Januari lalu, ia mengatakan bahwa Presiden Obama "mengorbankan Israel" dengan menetapkan perbatasan 1967 sebagai titik awal perundingan Israel-Palestina.

Romney membuat marah pihak Palestina pada Juli lalu ketika ia mendukung Yerusalem sebagai ibukota negara Yahudi saat ia berkunjung ke Israel  


antaracom

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More